Dea Amanda Terpilih sebagai Google Student Ambassador Batch 2 Tahun 2026, Bawa Kreativitas Mahasiswa FEBM ke Tingkat Nasional
Tanjungpinang, 5 Oktober 2026 — Keberanian untuk mencoba, kreativitas, serta kemauan untuk keluar dari zona nyaman mengantarkan Dea Amanda, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim (FEBM), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), meraih prestasi membanggakan dengan terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) Batch 2 Tahun 2026.
Menghadapi persaingan dari ribuan mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Meski sempat merasa minder, Dea memilih untuk menantang dirinya sendiri dan memberikan usaha terbaik selama mengikuti seluruh tahapan seleksi.
Dalam proses seleksi, Dea melewati beberapa tahapan, mulai dari seleksi administrasi hingga penilaian karya kreatif. Pada tahap awal, ia menyiapkan berbagai persyaratan pendaftaran yang mencakup data diri, riwayat kegiatan kampus, pengalaman organisasi, hingga portfolio. Selain itu, Dea juga ditantang untuk membuat konten visual dan video edukasi mengenai pemanfaatan teknologi Google, khususnya fitur-fitur Gemini.
Dengan persiapan sekitar satu hingga dua minggu, Dea mulai mengembangkan berbagai ide kreatif untuk menghasilkan konten yang tidak hanya informatif, tetapi juga menarik untuk disaksikan. Ia memadukan materi edukasi dengan unsur humor, desain visual, hingga gerakan tari agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan lebih ringan dan mudah dipahami.
Proses tersebut menjadi tantangan tersendiri karena dilakukan di tengah kesibukan perkuliahan dan kegiatan organisasi. Dea harus mampu membagi waktu antara kewajiban sebagai mahasiswa dengan proses kreatif yang membutuhkan cukup banyak persiapan, mulai dari menyusun konsep, membuat desain, melakukan pengambilan gambar, hingga proses editing.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Dea adalah ketika mengeksplorasi ide dan mengubahnya menjadi sebuah karya. Ia mencoba memadukan koreografi dengan lagu yang dibuat menggunakan Gemini Lyria untuk menghasilkan video edukasi yang lebih interaktif. Dalam proses pengambilan gambar, tidak semuanya berjalan sesuai rencana. Beberapa kali ia harus melakukan pengambilan ulang karena kesalahan saat proses shooting. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar yang membuatnya semakin menikmati setiap tahapan dalam menghasilkan karya.
Setelah melalui seluruh proses seleksi, kabar bahwa dirinya berhasil terpilih sebagai Google Student Ambassador menjadi momen yang penuh rasa haru, bahagia, sekaligus syukur. Dea mengaku tidak menyangka dapat lolos di tengah persaingan yang cukup ketat. Baginya, pencapaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membawa nama Universitas Maritim Raja Ali Haji dan FEBM ke tingkat nasional.
Terpilih sebagai Google Student Ambassador juga memberikan berbagai pengalaman baru bagi Dea. Selain mengembangkan kreativitas, ia memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan di bidang desain visual dan editing, sekaligus memperluas pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung produktivitas. Pengalaman tersebut juga mempertemukannya dengan mahasiswa dari berbagai daerah sehingga membuka ruang untuk membangun relasi dan bertukar wawasan mengenai kepemimpinan digital serta penyelenggaraan kegiatan edukatif.
Ke depan, Dea berharap dapat menjalankan perannya sebagai Google Student Ambassador dengan sebaik-baiknya dan memberikan manfaat bagi lingkungan kampus, khususnya mahasiswa FEBM. Ia berencana untuk berbagi pengetahuan yang diperolehnya melalui sesi berbagi maupun lokakarya sederhana mengenai pemanfaatan berbagai perangkat digital yang dapat menunjang kegiatan akademik dan pengembangan karier mahasiswa.
Selain menjalankan perannya sebagai GSA, Dea juga ingin terus mengembangkan kemampuan yang dimilikinya di bidang digital marketing dan desain UI/UX. Menurutnya, pengalaman yang diperoleh melalui program tersebut dapat menjadi salah satu langkah untuk terus mengeksplorasi potensi dan memperluas kemampuan di bidang digital yang saat ini terus berkembang.
Menutup ceritanya, Dea menyampaikan pesan kepada mahasiswa FEBM yang memiliki keinginan untuk mengikuti berbagai kegiatan maupun seleksi serupa agar tidak takut untuk mencoba. Menurutnya, rasa minder maupun kekhawatiran terhadap kemampuan orang lain seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengurungkan niat mengambil sebuah kesempatan.
“Coba aja dulu, jangan malu dan jangan pernah takut sebelum bertanding! Mau hasilnya gimana nanti itu urusan belakangan, yang paling mahal itu keberanian untuk mencoba.”
Selain keberanian untuk mencoba, Dea juga mengingatkan mahasiswa agar dapat menggunakan teknologi AI secara bijak. Baginya, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mencari referensi, melakukan riset, maupun mengembangkan ide awal. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap perlu diimbangi dengan kreativitas dan pemikiran kritis dari penggunanya.
Menurut Dea, teknologi seharusnya menjadi sarana untuk membantu seseorang mengembangkan kemampuan, bukan menggantikan proses berpikir dan kreativitas yang dimiliki. Karena itu, ia berharap mahasiswa dapat memanfaatkan perkembangan teknologi secara positif sekaligus tetap mengandalkan kemampuan dan ide yang berasal dari diri sendiri.
Kisah Dea Amanda dalam meraih kesempatan sebagai Google Student Ambassador menjadi gambaran bahwa sebuah pencapaian tidak selalu berawal dari rasa percaya diri yang besar. Keberanian untuk mencoba, kemauan untuk belajar, serta kesediaan untuk keluar dari zona nyaman dapat menjadi langkah awal dalam menemukan kesempatan baru. Pencapaian tersebut sekaligus diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa FEBM untuk terus mengembangkan potensi, berani mengambil peluang, dan membawa nama almamater melalui karya serta kemampuan yang dimiliki.






